Thursday, August 26, 2010

LAMPU TL MENGGUNAKAN ACCU.

Posting kali ini saya akan membahas cara pembuatan lampu Tl menggunakan catu daya accu. Rangkaian  ini sering kita jumpai pada penerangan darurat,  penerangan pada kabin bus dan lainnya. Mungkin bagi hobies otomotif, rangkaian ini bisa kita aplikasi pada sepeda motor  atau mobil yang dipasang pada kolong kendaraan. Rangkaian ini sebenarnya sudah banyak beredar di toko-toko elektronika dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk menghemat biaya pembuatan kita bisa memenfaatkan komponen bekas radio AM jadul. Pembuatan rangkaian ini tidak akan bayak mengeluarkan banyak biaya, biasanya tidak akan mencapai Rp.10.000,-. Pada dasarnya rangkaian ini adalah rangkaian  inverter mini yang mengubah tegangan DC  9 v - 13 v menjadi tegangan AC 200 v-400 v.

Cara kerja rangkaian ini yaitu :
Tegangan DC dari accu atau batry melewati kumparan L1 menuju komponen R & C  kemudian memicu transistor D 313 sehingga arus listrik akan mengalir melewati L2, saat  transistor aktif maka tegangan  trigger dari R & C menjadi kecil, sehingga transistor off. Saat transistor off maka tegangan yang mengalir menuju basis akan kembali tinggi sehingga akan terjadi siklus yang berulang-ulang. Ketika arus listrik yang mengalir pada L1&L2  berubah-ubah  maka  akan menghasilkan induksi electromagnet yang menghasilkan GGL induksi pada L3. Karena perbandingan L2 dan L3 akan menghasilkan arus AC 200 volt - 400 volt yang akan menghidupkan lampu TL. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat gambar berikut ini : 



















Gambar skema lampu TL menggunakan ACCU.

Dalam pembuatan rangkaian yang agak menyita waktu yaitu pembuatan transformator. Apabila susah membuatnya bisa kita pakai tranformator CT 0,5 Ampere. Walaupun dapat kita ganti menggunakan transformator CT, alangkah baiknya kita buat sendiri karena lebih hemat biaya dan bentuknya relatif  kecil.



Cara pembuatan transformator :
1. Inti tranformator : Batang ferit.
2. L1 & L2 : Kawat email diameter 0,8mm dengan jumlah lilitan 28 lilit. Cara melilit email yaitu dengan cara dua kawat email dijadikan satu kemudian dililit pada inti ferit, dua ujung yang pertama dijadikan satu  vcc> dan kedua ujung  lainnya menuju collector transistor dan menuju komponen R&C.
3. L3 :  Kawat email 0,1mm  dengan jumlah lilitan 500 lilit.






Monday, August 23, 2010

REKONDISI LAMPU HEMAT ENERGI

Barang-barang bekas yang tidak dipakai umunya langsung dibuang, padahal barang bekas tersebut masih bisa direkondisi alias direpair. Salah satu barang tersebut adalah lampu hemat energi, namun belum banyak orang yang tahu dan mampu memenfaatkan lampu hemet energi yang sudah tidak bias menyala lagi. Sebenarnya apasih lampu hemat energi itu?
Lampu Hemat Energi alias Compact Flourescent Lamp(CFL) atau sering disebut lampu jari memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan lampu jenis bohlam. Lampu jenis ini mampu menghemat konsumsi daya 80% daripada lampu konfesional yang lain. Walaupun lebih hemat energi lampu ini mempunyai kelemahan dalam segi harga yang lebih mahal, sebagai contoh lampu jenis bohlam 10 Watt hanya Rp.1.500-3.000,- sedangkan harga lampu hemat energi paling murah(merek abal-abal) Rp.5.000,-
Cara kerja lampu hemat energi yaitu arus listrik AC dari PLN kemudian di ubah menjadi arus dc oleh dioda bridge selanjutnya difilter oleh kondensator elektrolit. Tegangan tersebut kemudian diolah secara elektronik oleh rang kaian converter DC to AC kemudian arus AC tersebut akan menyulut tabung Flourescent. Untuk lebih jelasnya bias kita lihat pada gambar berikut ini :









Gbr. Skema dasar Lampu Hemat Energi

Bagian pokok lampu hemat energi :
1. Bagian Konektor atau fitting : Berfungsi sebagai penghubung lampu dengan jaringan AC listrik PLN. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat seperti gambar berikut ini :















2. Bagian Elaktronik atau Ballast elektronik : Rangkaian elektronika yang meruipakan system switching.
















3.Bagian filamen atau tabung lampu : Merupakan tabung flourescen yang akan berpendar saat filament didalamnya dialiri arus listrik.


















Cara rekondisi lampu hemat energi :
Pertama-tama kita siapkan alat berupa solder,atraktor,tenol,multi tester,obeng kecil. Setelah alat-alat lengkap maka kita mulai membuka tutup dari rangkaian lampu dengan cara mencongkel dengan obeng kecil. Setelah tutup tersebut terbuka maka kita dapat melihat rangkaian elektronika/ballast elektronik.Kemudian pisahkan rangkaian tersebut dengan lampu tabung tersebut dengan cara melepas 4 kawat sambungan pada rangkaian. Untuk mengetes filament tersebut kita gunakan multi tester pada posisi 10X. Apabila jarum bergerak saat pengukuran masing-masing filament maka dapat kita simpulkan bahwa lampu tabung masih layak digunakan. Karena lampu tabung masih baik maka kemungkinan besar kerusakan terjadi pada rangkaian ballast elektronik. Apabila filament lampu tabung yang putus maka kemungkinan rangkaian ballast elektronik masih baik. Kerusakan pada lampu biasanya ada 2 kemungkinan yaitu Rangkaian ballat rusak atau lampu tabung yang putus, maka dapat kita akali dengan cara kanibal. Cara kanibal dapat kita gunakan apabila kita mempunyai 2 lampu yang rusak dan kerusakannya berbeda cotohnya kita mempunyai sebuah lampu yang rusak ballast elektronik dan lampu yang lain rusak pada lampu tabungnya. Kita dapat memanfaatkan ballast elektronik yang masih bagus dan kita pasang pada tabung lampu yang masih bagus.

Pada komponen ballast elektronik yang sering rusak adalah transistor. Karena hampir semua jenis ballast elektronika yang ada hamper sama, maka bisa kita gunakan system kanibal pada ballast elektronik yang lain. Dengan system kanibal kita dapat menghemat biaya. Biasanya transistor yang digunakan yaitu seri 13001 untuk daya <8 watt, seri 13002 untuk daya 8 watt sampai 18 watt, seri 13003 untuk daya diatas 18 watt. 


Tanda kerusakan tabung lampu :
1. Pada salah satu atau kedua ujung filament berwarna hitam,hal ini dikarenakan panas yang berlebih pada filament yang diakibatkan tegangan lebih ataupun usia pakai. Untuk lebih baiknya kita gunakan multitester untuk mengecek filament. 
2. Tabung lampu retak,kemungkinan dikarenakan jatuh ,terbentur,atau karena panas yang berlebih pada tabung lampu.

Tanda kerusakan pada ballast elektronik : 
1. Sekring putus, biasanya putus dapat kita tes menggunakan multi tester pada skala 1X, apabila jarum bergerak maka sekring baik. 
2. Dioda short, hal ini jarang terjadi untuk mengetesnya kita menggunakan multi tester pada posisi 10X, apabila jarum tidak bergerak maka dioda putus. Bila pengetesan posisi dioda dibolak-balik dan jarum bergerak maka dioda short. 
3. capasitor, kerusakan pada umumnya capasitor terlihat menggembung. Cara pengetesan menggunakan multi tester posisi 10X apabila jarum bergerak kemudian kembali ke-posisi nol berarti capasitor baik. Apabila jarum bergerak dan tidak kembali maka capasitor korslet.
4. Resitor, kerusakan biasanya ditandai dengan terlihat terbakarnya resistor. Cara pengetesan dengan multi tester, bila jarum bergerak menunjukkan nilai yang sama dengan nilai resistor maka resistor baik,apabila jarum tidak bergerak maka resistor putus.
5. transistor, biasanya transistor pecah, untuk mengetesnya menggunakan multi tester posisi 10X. Transistor baik jika jarum bergerak apabila basis pada kabel merah dan colektor atau emitor pada kabel hitam dan jarum tidak bergerak pada saat dites menggunakan multi tester antara colektor dan emitor.


Contoh gambar rangkaian lampu hemat energi :




















Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca…….

Wednesday, August 18, 2010

MENGHITUNG NILAI RESISTOR PADA RANGKAIAN LED



LED adalah komponen elektronika yang terbuat dari bahan semi konduktor jenis dioda yang mampu memencarkan cahaya. LED mampu menghasilkan cahaya yang berbeda beda menurut semi konduktor yang digunakan dan jenis bahan semi konduktor  tersebut akan menghasilkan panjang gelombang yang berbeda sehingga cahaya yang dihasilkan bebeda pula.

CARA KERJA LED :
Karena LED adalah salah satu jenis dioda maka LED memiliki 2 kutub yaitu anoda dan katoda. Dalam  hal ini LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari  anoda menuju katoda. Pemasangan kutub LED tidak boleh terebalik karena apabila terbalik kutubnya maka LED tersebut tidak akan menyala. Led memiliki karakteristik berbeda-beda menurut warna yang dihasilkan. Semakin tinggi arus yang mengalir pada led maka semakin terang pula cahaya yang dihasilkan, namun perlu diperhatikan bahwa besarnya arus yang diperbolehkan 10mA-20mA dan pada tegangan 1,6V -  3,5 V menurut karakter warna yang dihasilkan. Apabila arus yang mengalir lebih dari 20mA maka led akan terbakar. Untuk menjaga agar LED tidak terbakar perlu kita gunakan resistor sebagai penghambat arus.

Gambar LED :




Tegangan kerja / jatuh tegangan  pada sebuah menurut warna yang dihasilkan :
1. Infra merah : 1,6 V
2. Merah : 1,8 V – 2,1 V
3. Oranye : 2,2 V
4. Kuning : 2,4 V
5. Hijau : 2,6 V
6. Biru : 3,0 V – 3,5 V
7. Putih : 3,0 – 3,6 V
8. Ultraviolet : 3,5 V

Berdasarkan Hukum Ohm,  V=I.R
Keterangan : V = tegangan,  I = arus listrik,  R = Resistor.
Apabila kita mencari nilai resistor maka : R = V/I  
R =(Vs-Vd) / I        
Vs = tegangan sumber(batry,accu,power suply).
Vd = jatuh tegangan.

Contoh : Misal kita mempunyai sebuah LED warna merah (memiliki jatuh tegangan 1,8 Volt) yang akan dinyalakan menggunakan  sumber tegangan(misalnya accu) : 12Volt maka kita harus mencari nilai resistor yang akan dihubungkan secara seri dengan LED. Untuk led yang digunakan sebagai indikator rangkaian kita menggunakan arus minimum agar led tahan lama yaitu 10mA. Apabila kita menginginkan led sebagai aksesori(cahaya yang terang) kita menggunakan arus maksimum yaitu 20mA. Sebagai contoh kita akan merangkai led sebagai aksesori maka kita menggunakan arus maksimum 20mA. Jadi dari masalah diatas dapat diketahui : tegangan yang digunakan : 12V, jatuh tegangan : 1,8V, dan Arus listrik : 20mA=0,02Ampere. R=(12-1,8) / 0,02 = 510 ohm.
Untuk menghitung nilai resistor seri led secara cepat menurut Gelora Elektronik Kursus adalah 100X selisih tegangan sumber dikurangi tegangan led : R seri dalam satuan ohm.
R=100X(12-1,8) =1.020 Ohm, bisa kita bulatkan 1K karena dipasaran tidak ada yang jual 1.020 Ohm.


Menghitung nilai resistor secara parallel
:

R LED Merah=(12 V- 1.8V) /0.02 A = 510 ohm.
R LED Biru(12V - 3V) / 0.02 A = 450 ohm.

Menghitung resistor secara seri :
R = (12V - 9.6 V) / 0.02 A = 120 ohms









Mennghitung resistor pada LED nyala putih(super bright)
Kita memiliki 3 buah led nyala putih(super bright) dan akan kita nyalakan dengan mengguynakan accu 12 Volt maka
R= (12V - (3.6 V x 3) / .0,3 A = 40Ω
Gambar LED super bright :
 
Catatan : Untuk indikator pada rangkaian kita menggunakan arus 10mA agar led tahan lama sedangkan untuk aksesori yang menyala lebih terang kita menggunakan arus maksimum 20mA.

Tuesday, August 17, 2010

RESISTOR

Resistor adalah komponen dasar elektronika yang berfungsi sebagai penghambat arus listrik. Nilai hambatan pada resistor disebut resistansi. Karena resistor yang fungsinya  sebagai penghambat arus listrik, maka sering disebut hambatan listrik. Resistor pada umumnya terbuat dari bahan karbon namun ada pula yang terbuat dari bahan kawat resistansi(kawat yang dibuat dari paduan resistivitas tinggi seperti nikel-kromium).
Resistansi suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω (Omega). Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan adalah besar dayanya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I²R watt. Semakin besar ukuran fisik resistor menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran besar nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100Ω 5W.


Resistor berdasarkan nilainya dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

1. Fixed Resistor : Yaitu resistor yang nilai resistansinya tetap atau tidak berubah. Resistor tetap biasanya ditandai dengan menggunakan cincin warna yang berfungsi sebagai tanda nilai resistansi.
Kode warna resistor .
Banyaknya cincin kode warna pada resistor ada yang berjumlah 4 cincin dan ada juga yang menggunakan 5 cincin warna. Resistor yang mempunyai lima cincin warna terdiri dari cincin 1,2 dan 3 sebagai jumlah digit, cincin 4 sebagai pengali serta cincin 5 adalah nilai toleransi. Resistor yang mempunyai empat cincin warna terdiri dari cincin 1dan 2 sebagai digit, cincin 3 adalah cincin pengali dan cincin 4 sebagai nilai toleransi.

 
Gambar tabel warna cincin resistor : 

2. Resistor variabel : Yaitu resistor yang nilai resistansinya dapat diubah-ubah.
Contoh resistor vaariabel :

-trimpot : Yaitu resistor yang nilai resistansinya dapat diubah menggunakan obeng.






Gambar trimpot.

-Potensio : Yaitu resistor yang nilai resistansinya dapat diubah langsung menggunakan tangan dengan memutar poros potensio secara langsung.




Gambar potensio.

3. Resistor Non Linier : Yaitu resistor yang nilai resistansinya tidak linier karena pengaruh faktor lingkungan, misalnya suhu dan intensitas cahaya. Jenis ini dibagi menjadi 3 yaitu :

-PTC : Positif temperatur Coefisien.
Adalah jenis resistor non linier yang nilai resistansinya dipengaruhi oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi maka semakin tinggi pula nilai resistansinya.








Gambar PTC.


-NTC : Negatif Temperatur coefisien.
Adalah resistor non linier yang nilai resistansinya terpengaruhi oleh perubahan suhu. Makin tiggi suhu yang mempengaruhi maka semakin kecil nilai resistansinya.








Gambar NTC.


-LDR : Light Dependent Resistor.
Adalah jenis resistor non linier yang nilai resistansinya terpengaruhi oleh perubahan intensitas cahaya yang mengenainya. Makin besar intensitas cahaya maka semakain kecil nilai resistansinya.









Gambar LDR.
 

Friday, July 30, 2010

CDI

CDI (Capacitor Discharge Ignition)adalah jenis sistem pengapian pada kendaraan bermotor yang memanfaatkan arus pengosongan muatan (discharge current) dari capasitor/kondensator, sebagai pencatu daya kumparan pengapian (ignition coil). Berdasar pencatu dayanya CDI dibagi menjadi 2 yaitu: CDI AC dan CDI DC, perbedaan kedua CDI ini  terletak pada penggunaan power supply yang digunakan.
Perbedaan CDI AC dan CDI DC: 
1. Sistem pengapian CDI AC merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan pencatu daya dari sumber Arus listrik bolak-balik yang berasal dari spul motor (dinamo AC/alternator).   2. Sistem pengapian CDI DC menggunakan pencatu daya dari sumber arus listrik searah (misalnya dinamo DC, Batere, maupun Accu). Arus listrik yang berasal dari accu masih belum mampu digunakan untuk mencatu CDI tersebut, sehingga dalam CDI DC ini masih membutuhkan rangkaian penaik tegangan yang disebut inverter.
Berikut bagian-bagian yang bisa ditemui (beberapa diantaranya terkadang tidak dipakai karena sesuatu hal) di dalam suatu sistem pengapian CDI: 1. Kumparan pengisian (charging coil). 2. Kumparan pemicu (trigger/pulser coil). 3. Penyearah (rectifier). 4. Baterai (battery). 5. Sekering (fuse). 6. Kunci kontak (contact switch). 7. Kondensator (capacitor). 8. Saklar elektronik (SCR). 9. Pengatur/penyetabil tegangan (voltage regulator/stabilizer). 10. Transformator penaik tegangan (voltage step up transformer). 11. Pengubah tegangan (voltage converter/inverter). 12. Pelipat tegangan (voltage multiplier/inverter). 13. Kumparan pengapian (ignition coil). 14. Kabel busi (spark plug cable). 15. Busi (spark plug). 16. Sistem pengawatan (wiring system). 17. Jalur bersama (common line) .
Cara kerja CDI:
Cara kerja rangkaian CDI AC: Saat kunci kontak di on-kan secara langsung memutuskan kontak antara pulsar dan ground, sehingga saat mesin di hidupkan seketika poros engkol menggerakkan magnet, ketika magnet berputar cepat diantara spul maka spul tersebut menghasilkan tegangan tinggi ac kemudian disearahkan oleh dioda. Tegangan  dc(400V) mengisi capasitor. Selanjutnya sebuah pemicu(trigger dari picup) akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah SCR. Saat pengosongan capasitor arus listrik mengalir melewati coil primer dan  menghasilkan induksi elektromagnet pada kumparan sekunder yang menghasilkan percikan api.
GAMBAR SKEMA CDI AC.
Cara kerja rangkaian CDI DC: Saat kunci kontak di on-kan secara langsung menghubungkan tagangan accu dengan CDI. Teganan accu(12V) kemudian dirubah menjadi tegangan  tinggi(400V), tegangan tinggi tersebut mengisi capasitor. Selanjutnya sebuah pemicu(trigger dari picup) akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah SCR. Saat pengosongan capasitor arus listrik mengalir melewati coil primer dan  menghasilkan induksi elektromagnet pada kumparan sekunder yang menghasilkan percikan api.
GAMBAR SKEMA CDI DC. 
Teknologi yang terus berkembang seperti saat ini telah mengubah teknologi CDI menjadi lebih handal, CDI yang mulanya sederhana berubah menjadi rangkaian terintegrasi dengan micro chip(micro computer), sehingga dapat diprogram menurut timing pengapian yang diinginkan. Pemrograman timing pengapian ini digunakan untuk mendapatkan tenaga yang maksimal menurut rpm putaran mesin. CDI programmable ini banyak digunakan didunia balap sehingga sering disebut CDI RACING.
Secara skematik rangkaian CDI programmable sebagai berikut:
Selain CDI programmable kita sering mendengar istilah CDI unlimate dan CDI limter. Perbedaan keduanya hanyalah pada rangkaian pembatas frekwensi trigger pic up. Rangkaian limiter dahulunya hanya menggunakan rangkaian resistor dan capasitor sebagai filternya, namun sekarang ini telah diganti dengan rangkaian terintegrasi. CDI yang menggunakan limiter berguna sebagai pembatas agar mesin motor lebih halus dan tidak mudah rusak. Apabila kita menggunakan CDI limiter sebenarnya bias kita modifikasi menjadi unlimate.
Cara merubah CDI limiter menjadi unlimate yaitu dengan cara:
1. Membuka pembungkus CDI dengan pisau cutter.
2. Membaca jalur rangkaian, cari rangkaian yang berfungsi sebagai limiter kemudian menjumper/mencabut rangkaian limiter(hal ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang ahli elektronika)
3. Kembalikan rangkaian tersebut pada pembungkusnya,tutup menggunakan sealer.
Socket CDI yang biasa dipakai pada motor Honda.Pada Honda tiger menganut system CDI AC, sedangkan pada Honda mega Pro sudah menggunakan system CDI DC .

Thursday, July 29, 2010

RANGKAIAN PENGEJUT IKAN/STROM IKAN

Blog ini saya buat sebagai sarana berbagi ilmu, terutama ilmu elektronika yang saya dapatkan dari bangku sekolah, pengalaman dari teman-teman dan pengalaman pribadi. Sekiranya dalam blog ini terdapat kesalahan yang tidak disengaja mohon dimaklumi dan sudilah memberikan kritik dan saran. Blog yang pertama ini akan mengulas mengenai rangkaian pengejut ikan, dan semoga artikel ini tidak dipergunakan untuk merusak ekosistem alam melainkan sebagai penambah wawasan. Penulis berlepas diri apabila artikel ini untuk ilegal fishing. Saya tegaskan kembali bahwa alat ini mempunyai bahaya yang besar dikarenakan adanya arus dan tegangan tinggi. Sudah banyak korban berjatuhan karena terkena sengatan listrik dari alat ini. Alat ini sebenarnya dapat dimodifikasi sebagai inverter karena prinsipnya untuk menaikkan tegangan listrik. Alat pengejut ikan ini sangatlah simpel, namun dalam pembuatannya perlu ketelitian karena berhubungan dengan listrik tegangan tinggi. Alat ini pada dasarnya mengguanakan prinsip transformator/trafo/coil, yaitu mengkonversi tegangan rendah menjadi tegangan tinggi.

Sebelum itu mari kita mempelajari apa yang disebut trafo/transformator.
Transformator adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan dan arus listrik, terdiri dari kumparan primer,  kumparan sekunder dan inti trafo. Prinsip kerjany berdasarkan induksi elektromagnetik, yaitu ketika kumparan primer dihubungkan dengan arus bolak-bailik(AC), perubahan arus listrik  pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah-ubah. Medan magnet yang berubah-ubah diantara inti besi dan ditransmisikan ke-kumparan sekunder, sehingga pad kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik. 
Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan :



Menurut hasil perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan sekunder dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu :
 1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih sedikit dari kumparan sekunder(Ns>Np).
2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak dari kumparan sekunder(Np>Ns).

penggunaan trafo tidak dapat digunakan pada arus DC melainkan menggunakan arus AC, walaupun begitu ada cara agar arus DC dapat bekerja pada trafo yaitu dengancara memberikan arus DC yang terputus-putus, atau memberikan polaritas yang berbolak-balik pada kumparan primer, perubahan arus yang terputus putus inilah yang mampu mengubah fluks elektromagnetik yang selanjutnya menghasilkan ggl induksi pada kumparan sekunder. Pada alat ini yang berperan sebagai alat pemutus arus listrik adalah kontak platina yang didesain agar dapat membuka dan menutup secara otomatis oleh induksi elektromagnet pada trafo. Kita juga dapat menggunakan rangkaian elektronik sebagai penghasil arus putus-putus.

Setelah mengetahui tentang transformator maka kita lebih mudah memahami cara kerja rangkaian berikut ini. Saat saklar push on diaktifkan maka arus listrik accu akan mengalir menuju kontak platina dan mengalir menuju kumparan primer, didalam kumparan primer menghasilkan medan magnetik pada inti besi lunak yang mengakibatkan tertariknya kontak platina, saat kontak platina tertarik maka secara otomatis arus pada kumparan primer terputus, saat itu juga kontak platina kembali pada posisi semula dan akan arus listrik lagi, siklus membuka dan menutup pada kontak platina akan terus menerus terjadi sehingga pada kumparan primer mengalir arus yang putus-putus yang menghasilkan frekuensi tertentu, sehingga akan menghasilkan ggl induksi pada kumparan sekunder, nah dari kumparan sekunder inilah akan menghasilkan tegangan tinggi yang dapat digunakan sebagai pengejut ikan. Dalam prakteknya saat siklus buka-tutup kontak platina akan menghasilkan percikan bunga api yang mengakibatkan cepat tebakarnya kontak platina dan menurunnya daya output trafo/coil ini, oleh sebab itu haruslah kita pasang capasitor/condensor sebagai peredam percikan api serta mampu menyimpan dan melipat gandakan tegangan listrik.

Gambar skema rangkaian pengejut ikan :



Gambar skema revisi rangkaian pengejut ikan :



Keterangan gambar :
1. Accu, 12 volt(accu sepeda motor).
2. Sk : saklar push buttom.
3. Kontak platina.
4. C : Condenser(capasitor pada sepeda motor).
5. Tangkai kontak platina(dari potongan gergaji besi).
6. L1 : Coil/kumparan primer.
7. L2 : Coil/kumparan sekunder.
8. Inti coil(besi lunak/kepingan seng yang dirakit menjadi satu).
9. U1 : Batang tembaga sebagai ujung pengejut.
10. U2 :Jaring ikan(sebagai penangkap ikan).

Dalam pembuatan coil harus hati-hati, karena faktor kerapian pada penggulungan kumparan akan mempengaruhi daya output alat ini. Cara pembuatan coil ini sebagai berikut :
-Pertama siapkan inti besi lunak, setelah itu kuta bungkus/dilapisi prespan(plastik mika), kalau tidak ada maka bisa kita gunakan dengan kertas pembungkus semen.
-Kedua : Kita mulai dengan menggulung kawat email secara rapi tanpa celah, setelah ujung besi kita lapisi dengan prespan, kemudian mulai menggulung kembali kawat email pada bagian atasnya(gulungan lapis ke-2), saat sampai keujung besi kita ulangi melapisi prespan, proses ini sampai kawat email pada lapisan ke-3, dua ujung kawat tersebut akan menjadi terminal kumparan primer.
-Ketiga kita mulai lagi menggulung kumparan seperti kumparan primer, jumlah lapisan kawat email bisa kita buat sebanyak 5-6 lapis, kedua ujung kumparan akan menjadi terminal coil sekunder.
Ukuran diameter kumpara ini akan mempengaruhi arus output, biasanya pada kumpara primer menggunakan email berdiameter 0,6mm dan email sekunder berdiameter 0,9mm. Untuk mengubah daya keluaran kita dapat mengubah dengan cara mengubah perbandingan jumlah kumparan primer dan sekunder serta diameter kawat email.

Semoga artikel ini bermanfaat.Untuk lebih jelasnya silahkan lihat alatnya secara langsung pada tukang setrum ikan....